Wednesday 30 March 2011

Anak Sholih Pilihan OrangTua Bijaksana


Allah Swt. berfirman, yang artinya:

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui".

Lafadz “Jika mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka dengan karunia-Nya” mempunyai dua acuan, pertama, mengacu pada mereka yang sudah siap menikah, namun dalam keadaan miskin, dan kedua, mengacu pada anak sholih yang di amanahkan Allah kepada orang tuanya yang berada dalam keadaan miskin. Dalam pembahasan ini akan difokuskan pada acuan yang kedua.

Anak merupakan amanah berharga dari Allah Swt. kepada kedua orang tuanya. Di bawah tanggung jawab orang tua, anak akan tumbuh berkembang sesuai dengan harapan orang tuanya. Tentu saja, harapan para orang tua terhadap anak sangat beragam. Ada yang menginginkan anaknya menjadi orang terpelajar sehingga mempunyai kedudukan terhormat di masyarakat. Ada yang menginginkan anaknya menjadi orang yang kaya sehingga hidupnya serba berkecukupan. Dan masih banyak lagi harapan-harapan orang tua lainnya yang semuanya masih berorientasi pada materi dan kurang memperhatikan masalah kesholihan anak. Sangat sedikit orang tua yang mengutamakan kesholihan anak dan menyerahkan sepenuhnya masalah rezeki anak kepada Allah Ta’ala.


Dari sekian macam harapan orang tua, tentu saja harapan agar anaknya menjadi anak yang sholih merupakan pilihan bijaksana dan berorientasi jauh ke depan. Sebab anak yang sholih tidak hanya berguna bagi diri anak, tetapi sangat bermanfaat bagi kelancaran perjalanan kedua orang tuanya kelak di akhirat menghadap Allah Robbul Izzati. Sekian banyak badits Rasulullah telah menceritakan keutamaan anak sholih. Orang tua akan mendapat kedudukan terhortmat di sisi Allah walaupun ibadahnya pas-pasan lantaran pengaruh anak sholih yang selalu mendoakan kedua orang tuanya siang dan malam. Bahkan, anak sholih merupakan salah satu dari tiga hal yang disebut Rasulullah sebagai hal yang dapat mendatangkan pahala yang tidak ada putus-putusnya walaupun kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Membentuk Anak Sholih

Membentuk anak sholih bisa dilakukan sejak dini, yaitu memilihkan ibu yang baik bagi anaknya. Seorang sahabat berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku telah mendidikmu sejak engkau belum dilahirkan.” Anaknya bertanya, “Bagaimana ayah bisa mendidik saya, padahal saya belum dilahirkan?” Ayahnya menjawab, “Ayah telah memilihkan ibu yang baik untukmu.” Dari dialog ayah dan anak di atas dapat disimpulkan bahwa seorang ibu mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan seluruh segi kehidupan anak. Mengingat pentingnya peran ibu, Rasulullah bersabda, “Pilihlah wanita yang baik sebagai tempat menyemaikan benihmu.”

Dalam perkembangan anak, ibulah yang paling dekat dengan anaknya, baik secara fisik maupun psikis. Hampir segala urusan yang berkaitan dengan anak selalu ditangani oleh sang ibu. Dari seorang ibulah anak mulai belajar mengenai lingkungan sekitar. Bahkan, dalam urusan pembentukan watak kepribadian, peran sang ibu tetap begitu dominan dibandingkan peran ayah. Karena itu tidak berlebihan jika sampai dikatakan bahwa ibu merupakan madrasah bagi anaknya.

Islam telah memberikan ketentuan-ketentuan yang sangat jelas berkaitan dengan usaha membentuk anak shalih, baik sebelum maupun sesudah anak dilahirkan. Sebelum anak dilahirkan, orang tua dapat melakukan hal-hal berikut ini: berdia sebelum berkumpul dengan istri, berdoa agar diberi keturunan yang sholih, berusaha untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa, melaksanakan hak dan kewajiban sebagai suami istri sehingga tercipta keluarga sakinah yang secara psikoligis berpengaruh terhadap janin yang sedang dikandungnya, dan sebagainya.

Usaha yang dapat dilakukan setelah anak dilahirkan, di antaranya adalah mengumandangkan azan dan iqomah apa kedua telinga anak, membawanya kepada orang sholih untuk ditahnik, mengaqiqohinya, memberinya nama yang baik, mencukur rambutnya lalu dihargai dengan emas dan disedekahkan kepada fakir miskin, mencukupi kebutuhan jasmaninya dengan harta yang halal, dan memberikan pendidikan formal yang mampu membina anak menjadi anak yang sholih. Dalam kaitan pendidikan formal, orang tua hendaknya berhati-hati agar tidak terjebak dengan sekolah yang hanya menawarkan fasilitas pendidikan yang serba canggih tanpa memperhatikan sisi-sisi ruhiyah anak.

Fakir Yang Cukup
Anak sholih merupakan karunia Alloh Ta’ala yang tiada ternilai harganya. Sayangnya, banyak orang tua yang melupakan masalah ini. Hal ini terbukti dengan kurangnya perhatian orang tua dengan tidak memperhatikan upaya membentuk anak sholih seperti tersebut di atas. Dalam benak orang tua, yang penting anak bisa mandiri secara ekonomi. Lantas, anak disekolahkan pada sekolah-sekolah yang menitikberatkan dan keterampilan (baca: sekolah umum murni) tanpa sedikit pun memikirkan aspek sikap (baca: agama). Orang tua beranggapan bahwa jika anak telah mampu secara ekonomi, maka kehidupan orang tua di usia lanjut akan tenang dan tenteram karena dijamin secara ekonomi oleh anaknya. Langkah-langkah dan anggapan seperti itu jelas salah dan dapat berakibat fatal.

Bila kita cermati keadaan di sekeliling kita, tidak jarang anak justru menjadi musuh dan mengganggu ketenangan orang tua di masa tua yang semestinya banyak digunakan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Harta yang sekian lama dikumpulkan untuk kebahagian anak, semuanya ludes digunakan anak untuk melampiaskan hawa nafsunya. Bahkan, tak jarang orang tua mendapatkan siksaan secara fisik dari anak yang durhaka. Orang tua mana yang rela diperlakukan anak sedemikian tragis dan mengenaskan. Tentu, jawabannya adalah tidak.

Anak sholih tidak mungkin melakukan perbuatan biadab seperti itu terhadap orang tuanya karena dalam diri anak telah tertanam pemahaman yang kuat terhadap ajaran Islam. Jangankan, melakukan penyiksaan secara fisik, berkata “uff” di depan orang tua saja sudah mendapatkan teguran keras. Sebaliknya, anak sholih akan memperlakukan orang tua dengan lemah lembut sebagaimana perintah Allah Swt. dan RasulNya. Ia akan berhati-hati dalam perkataan dan perbuatannya di hadapan orang tua, jangan sampai menyakiti hatinya.

Mengharapkan anak menjadi anak sholih sesungguhnya merupakan harapan yang lebih dari sekedar cukup. Seandainya Allah menakdirkannya menjadi fakir, maka Allah akan mencukupinya (menjadi fakir yang selalu dicukupi Allah) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur di atas. Masalah rezeki inilah yang selalu menjadi kekhawatiran sebagian besar orang tua. Padahal, Allahlah Dzat yang berwenang memberikan rezeki seluruh makhlukNya. Walhasil, tidak ada alasan sama sekali apabila mengkhawatirkan rezeki anak yang sholih. Allah berfirman,

Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dan masih banyak janji-janji Allah bagi mereka yang sholih/ bertaqwa. Mudah-mudahan kita dan keturuan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang sholih.

Antara Shuhbah dan Mahaabah


Shuhbah adalah pertemanan.

Sungguh telah menampak dengan jelas shuhbah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan para sahabat. Ini dibuktikan banyak hadits yang di antaranya:

1.Para sahabat tidak malu bertanya sebagaimana ketika Harits bin Hisyam bertanya bagaimana proses Beliau mendapat ilmu (menerima wahyu) yang kemudian dijawab oleh Beliau:

"Pada suatu ketika wahyu datang kepadaku laksana suara lonceng dan itulah yang terberat bagiku…"HR Bukhari.

2. Para sahabat berani mengajukan protes (Muroja'ah). Abu Qilabah berkata: Abu Musa al Asy'ari berkata: Aku bersama sekelompok orang dari Bani Asy'ar datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta agar diangkut (bersama dalam rombongan). Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, aku tidak akan mengangkut kalian karena tidak memiliki sesuatu (kendaraan) guna mengangkut kalian" Abu Musa melanjutkan: Kami diam beberapa lama dan kemudian didatangkanlah beberapa unta kepada Beliau. Dan ketika kami berangkat maka sebagian kami berkata kepada sebagian lain: "Kita telah menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melupakan sumpah Beliau. kita tidak akan diberkahi." Abu Musa berkata: Kitapun kembali kepada Beliau dan mengatakan: "Sesungguhnya kami datang kepada anda untuk memohon agar diangkut. Sementara engkau telah bersumpah untuk tidak mengangkut kami tetapi kemudian kamipun diangkut" Beliau lalu bersabda: "Demi Allah, Insya Allah aku tidak bersumpah sesuatu kemudian melihat ada yang lebih baik kecuali aku melakukan yang lebih baik itu dan lalu aku melakukan upaya menghalalkan sumpahku (membayar kafarat) HR Muslim.

3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bergurau dengan sahabat:

- Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bergurau dengan sahabatnya untuk menyenangkan mereka. Di antaranya adalah ketika seorang lelaki meminta kendaraan. Beliau lalu bersabda: “Aku akan membawamu di atas anak unta” lelaki itu berkata: Apa yang akan saya lakukan dengan anak unta? Beliau bersabda: “Bukankah unta tidak melahirkan kecuali unta? HR Turmudzi Abu Dawud.





Dan Beliau pernah bergurau dengan seorang lelaki badui bernama Zahir. Beliau bersabda: “Zahir adalah orang kampung sedang kita orang kota” HR Turmudzi

Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam berlaku lemah lembut kepada anak-anak. Mengucapkan salam dan mengusap kepala mereka. Terkadang Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidullah dan anak-anak Abbas untuk berbaris. Kemudian Beliau bersabda: “Barang siapa yang lebih dahulu datang kepadaku maka baginya ini dan itu”. Anak-anak itupun bersegera datang kepada Beliau hingga ada yang menempel di punggung Beliau dan dada Beliau dan Beliau pun mencium mereka” HRAhmad.

Kendati demikian para sahabat tidak pernah kehilangan rasa ta'zhim kepada Nabi SAW:

Dari Usamah bin syurek disebutkan: Kami duduk di hadapan Nabi SAW seakan-akan di atas kepala kamu ada burung (hinggap) tidak seorangpun dari kami yang berkata hingga ada orang-orang datang dan bertanya kepada Beliau: "Siapakah para hamba yang paling dicintai Allah? Beliau bersabada: "Orang yang paling baik pekertinya"HR Thabarani.

Bahkan kewibawaan Rasulullah SAW menjadikan para sahabat (yang tinggal di Madinah) jarang sekali bertanya kepada Beliau. Ibnu Abbas ra berkata: "Semoga Allah mengasihi para sahabat Muhammad, mereka jarang sekali bertanya (meski banyak pertanyaan) kepada Nabi SAW. Hanya ada sekitar 12 pertanyaan yang semuanya disebutkan dalam Alqur'an. Karena itu kami para sahabat senang jika ada Badui datang kemudian bertanya kepada Beliau dan mereka pun mendapatkan faedah.

Kedekatan bukan berarti hilangnya ke Ta'zhiman: Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Bukan bagian dari kami orang yang tidak memuliakan orang tua, yang tidak mengasihi yang kecil dan tidak mengerti hak orang alim. HR Ahmad-Thabarani "Tempatkanlah manusia pada tempat mereka" HR Abu Dawud.

Lalu bagaimana mewujudkan shuhbah dan mahabah dalam diri kita? Seorang yang memahami arti ukhuwwah mudah baginya melahirkan shuhbah. Cukuplah Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara maka damaikanlah di antara dua saudaramu"

Sementara Mahabah/ Haebah seseorang bisa terwujud dengan kuatnya Aqidah dalam dirinya serta adanya Muru'ah, sikap menjaga diri dari budi pekerti rendah.

Sunday 27 March 2011

MENIKMATI AL-QUR’AN


Adalah Mush’ab bin Umair seorang pemuda tampan anak konglomerat yang sangat penasaran mendengar bahwa ada sebuah Islamic Home Schooling di Bukit Shofa tepatnya di rumah Arqom bin Abul Arqom yang dibina langsung oleh sang Al-Amin Muhammad SAW, Mush’ab segera bergegas ketempat tersebut ingin melihat dan mendengar secara langsung apa yang menjadi daya tarik Home Schooling tersebut, Mush’ab masuk dan menempati sudut ruangan perlahan dari hati dan lisan Muhammad SAW mengalir Ayat demi Ayat Al-Qur’an penuh dengan pesona menembus dada-dada para audien tak terkecuali Mush’ab. Hatinya sejuk bak tersiram embun seketika itu juga Mush’ab menyatakan keislamannya.

Dengan berislam Mush’ab semakin bijak dan cerdik, ditinggallah semua fasilitas kemewahan dari orang tuanya, dia rela memulai hidup baru dari nol, berpahit-pahit meninggalkan kemewahan sesaat, untuk mengemban tugas dari Rosulullah SAW sebagai Duta Besar ke Madinah, berdakwah mempersiapkan Madinah sebagai Kota Hijrah yang representatif.

Berbekal Ayat-Ayat Al-Qur’an yang telah terinstall dalam sanubarinya, Mush’ab semakin berwibawa dan disegani, dengan didampingi oleh sahabatnya As’ad bin Zurarah satu per satu kabilah-kabilah dan suku-suku didatangi untuk diajak sejenak mendengarkan keindahan Wahyu Al-Qur’an, hingga suatu ketika Mush’ab berdakwah di tengah orang-orang suku Abdul Asyhal, tiba-tiba sang Kepala Suku Usaid bin Hudhair dengan kemarahan yang membuncah mendatanginya sambil menghunus Tombak. “ Hai kamu pemuda bau kencur, berani-beraninya kamu hendak membodohi rakyat keci kami, pergi ! tinggalkan tempat ini jika tidak ingin nyawa kamu melayang “.

Mendengar ancaman sang Kepala Suku, Mush’ab tak bergeming sedikitpun, dengan ketenangan, ketulusan hati dan senyum manisnya, Mush’ab kemudian bernegosiasi dengan sang Kepala Suku, kata-kata yang sejuk dan manispun keluar dari bibirnya “ Bagaimana kalau kita duduk sejenak mendengarkan terlebih dahulu apa yang hendak kami sampaikan ? Jika nanti Anda tertarik, silahkan Anda dapat menerimanya, namun jika nanti Anda tidak suka, kami akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai, bagaimana ? “.

“ Ok, baiklah “, kata Usaid yang kemudian duduk sambil meletakkan tombaknya. Mush’ab mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Rosulullah SAW. Bacaan dan uraian Wahyu yang meluncur dari hati dan bibir Mush’ab mengalir ke telinga menembus dada dan menerangi hati Usaid. Belum usai Mush’ab membaca dan memberikan uraiannya, tiba-tiba bibir Usaid bergetar dan berkata “ Alangkah indahnya kata-kata itu, tidak satupun ada kesalahan, Hai Pemuda, apa yang harus aku lakukan jika aku mau masuk Agama Muhammad ? “, “ Alhamdulillah, bersihkan pakaian dan badan Anda lalu ucapkanlah Asyhadu an laailaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rosulullah “, jawab Mush’ab. Seketika itu juga Usaid melaksanakannya.

Dilain peristiwa seorang Preman kelas kakap yang sangat disegani dan ditakuti, ia tidak segan membunuh siapa saja yang ia anggap layak dibunuh, dialah Umar bin Khothob, tak ada seorangpun berani melawannya, disebutkan namanya saja orang sudah gemetaran apalagi berhadapan dengannya, namun ternyata ada seorang wanita muda yang mampu melumpuhkan kebengisan sang Preman ini, dia tidak lain adalah Fatimah adik kandungnya sendiri.

Suatu hari ketika Umar bin Khothob pulang kerumah, sebelum masuk rumah dia mendengar lantunan bait-bait indah yang keluar dari mulut adiknya, diintipnya dari balik pintu ternyata adiknya membaca lembaran-lembaran yang dia tidak pernah tahu dan melihatnya namun dia menduga pasti itu adalah ajaran dari Muhammad, gemuruh kemarahan Umar seketika bangkit dan mendobrak pintu rumahnya, “ Hai perempuan kecil apa yang kau baca barusan, cepat serahkan kepadaku kalau tidak ingin kupatahkan tanganmu atau kusobek mulutmu “ bentak umar kepada adiknya Fatimah. “ oh tidak, lebih baik nyawaku melayang daripada harus menyerahkan lembaran Kitab ini kepada orang kotor seperti kamu “, jawab Fatimah tanpa rasa takut sedikitpun.

Dicengkeramlah kedua bahu fatimah lalu diangkatlah tubuhnya oleh Umar, “ Dasar perempuan, berani sekali kau melawanku, serahkan lembaran-lembaran Kitab itu atau aku banting tubuhmu ? “, kebengisan umarpun terpancing. “ Baiklah, tapi sebelum kuserahkan Lembaran Kitab ini, dengarkan dulu isinya, bagaimana ? “ nego Fatimah kepada kakaknya Umar “ , perlahan umarpun melepaskan cengkeramannnya, lalu mencoba duduk menuruti kemauan adiknya.

Mulailah Fatimah membuka lembaran Kitabnya, lalu membaca dengan penuh cinta dan ketulusan beberapa petikan Ayat dari Surat Thoha :( sebaiknya Anda buka Al-Qur’an dan membaca ayat-ayat dibawah ini

“ Thaha, Kami tidak Menurunkan al-Quran ini kepadamu agar engkau menjadi susah;

melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),

diturunkan oleh (Allah) yang Menciptakan bumi dan langit yang tinggi,

(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang Bersemayam di atas Arasy.

Milik-Nya-lah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.”. ……….( Thoha : 1-6 )

Begitu mendengar ayat-ayat tersebut mengalir sejuk menembus dada dan hati Umar yang telah membatu seketika itu juga hatinya mencair jernih, tanpa terasa buliran air mata Umar menetes dan semangat untuk mendatangi sumber ajaran tersebut sudah tak terbendung lagi, ia bangkit menuju Islamic Home Schoolingnya Rosulullah, sesampainya di depan pintu, dengan suaranya yang menggelegar dan gayanya yang khas sambil menngedor pintu, umar berteriak : “ Hai, buka pintunya cepat !, ini Umar datang mau ketemu Muhammad, cepat, cepat buka pintunya “. Serentak para Sahabat yang ada di dalam panic lalu bangkit menghunuskan pedangnya, “ Ya Rosul Umar bin Khothob datang, bagaimana ini ? “, “ sarungkan pedang kalian, sambut Umar dengan ramah dan senyuman, karena dia akan menjadi Sahabat kalian dan mengokohkan barisan kita “.

Pintupun di buka, Umar langsung berlutut dihadapan Rosulullah SAW dan menjabat tangan Beliau “ Ya Muhammad, apa yang harus aku katakana kalau aku ingin jadi pengikutmu ?”. “ Alhamdulillah, Allahu Akbar, ucapkanlah ya Umar , Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rosulullah “, umarpun menirukannya dan bergemalah kumandang takbir Allahu Akbar berkali kali dari para sahabat yang hadir menyambut islamnya Umar, maka semakin kokohlah barisan dakwah Rosulullah SAW ketika itu.

Sahabat Sukses Rumah Yatim Indonesia yang senantiasa dalam naungan Hidayah Allah SWT, seorang Preman hatinya bisa luluh karena mendengar Al-Qur’an, seorang konglomerat juga lunak dengan Al-Qur’an, demikian juga seorang budak dan orang-orang biasa pada umumnya semua tersentuh dan membenarkan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Muhammad SAW dan para Sahabatnya. Dan yang tidak kalah penting bangsa JIN saja terpesona dengan Al-Qur’an,

“Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan Al-Qur’an lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan “. ( Q.S. Jinn : 1 )

Yah…. Jin saja terpesona mendengar Al-Qur’an dibacakan, bagaimana dengan kita ? perasaan apa ketika Mushab Al-Qur’an ada dihadapan kita, lalu kita pegang terus kita buka untuk membaca atau belajar ? baru juga beberapa ayat kita baca atau kita pelajari rasanya sudah jenuh dan matapun mengantuk bandingkan dengan kalau kita nonton Film atau Sinetron atau baca novel, satu jam lebih gak terasa.

Atau ketika kita mendengar bacaan Al-Qur’an / Murottal, berapa lama kita tahan mendengarkannya ? mungkin hanya beberapa menit saja kita tahan mendengarkannya itupun pikiran kita sudah panas dan makin tegang, bandingkan jika kita mendengarkan musik ? puluhan lagu berlalu tanpa terasa bahkan begitu nikmatnya hingga kaki, tangan dan mulut kitapun ikut bereaksi mengiringi irama lagu tersebut, lihatlah bagaimana reaksi penggemar pentas musik ! wow…. Benar-benar edan.

Sahabat, Apakah Al-Qur’an tidak seindah dan mempesona seperti dulu zaman Rosulullah ? mengapa kita tidak mampu menikmati keindahan, kesejukan dan kedahsyatan Al-Qur’an ? ada apa dengan diri kita ? atau ada apa dengan Al-Qur’an saat ini, adakah yang berbeda ?

Sahabat, Kitab Al-Qur’an bukanlah bacaan biasa, seperti kitab-kitab lain pada umumnya, Al-Qur’an adalah Kitab yang LUAR BIASA, maka cara menyikapinya juga harus Luar Biasa, coba mulai sekarang pandanglah Al-Qur’an dengan sudut pandang yang Luar Biasa

Yang pertama pandanglah Al-Qur’an sebagai MANUAL BOOK KEHIDUPAN, kita tahu Mobil, Motor, dan barang-barang elektronik lainnya, semua produk itu diciptakan dilengkapi dengan sebuah buku petunjuk pemeliharaan yang kita sebut Manual Book, demikian juga kita Manusia dan Alam Semesta ini ada dan diciptakan dilengkapi dengan Manulal Book yaitu Al-Qur’an, apa jadinya Manusia ini kalau tidak pernah mengerti Manual Booknya sendiri, lihatlah kerusakan Alam dan bejatnya Akhlaq manusia saat ini, mengapa Keluarga kita, masyarakat kita, Negara kita bahkan Dunia kita semakin berantakan saja ? tidak lain adalah karena kita kurang banyak mempelajari dan memahami Manual Book kita sendiri, bahkan cenderung makin menjauhinya.

Yang Kedua, pandanglah Al-Qur’an sebagai SURAT CINTA dari Sang Kekasih Sejati. Salah satu ekspresi cinta seseorang dengan yang lain adalah dituliskannya Surat Cinta yang indah walau kadang hanya imajinasi belaka, bagaimana perasaan kita ketika kita mendapatkan Surat Cinta atau SMS Cinta dari seseorang yang kita kagumi ? kita baca berkali-kali surat dan sms itu seolah-olah si dia ada dihadapan kita, gak ada bosan-bosannya bahkan kita ceritakan kepada keluarga dan orang-orang yang kita kenal, gara-gara surat cinta itu, kita jadi selalu ingat si dia, di WC ingat dia, mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia bahkan mau sholatpun ingat dia.

Padahal Al-Qur’an adalah SURAT CINTA dari Sang Kekasih Sejati yang rela memberikan segala-galanya buat kita seumur hidup kita sampai mati kita bahkan sampai kita hidup kembali. Cobalah sesekali kita lihat dan kita rasakan bagaimana ‘Perasaan Allah’ terhadap kita, lihatlah Kata-kata CintaNYA, KerinduanNYA, KeindahanNYA dan KelembutanNYA semuanya tertuang di dalam SURAT CINTANYA ( Al-Qur’an )

Yang Ketiga, pandanglah Al-Qur’an sebagai KITAB SOLUSI, adakah diantara kita yang tidak punya masalah ? masalah pribadi, masalah keluarga, masalah bisnis, masalah kesehatan dan seabrek masalah lainnya, banyak diantara kita ketika dilanda masalah mencari solusi pintas ke Dukun, Paranormal, Guru Spiritual, Ustadz, Kyai, kita justru lupa mencari ke SUMBER SOLUSI yaitu di KITAB SOLUSI, tak ada satupun masalah yang tak dapat kita selesaikan kalau kita mau buka KITAB SOLUSI karena Penulis Kitab Solusi ini adalah Yang Membuat Masalah, kalau kita Tanya siapakah yang paling benar dalam menjawab soal-soal ujian di sekolah ? jawabnya ya pasti si pembuat soal ujian tersebut, bukan ?

Yang Keempat, Pandanglah Al-Qur’an sebagai PETA HIDUP kita, apa jadinya kalau kita menjelajah hutan yang masih gelap tanpa Peta ? atau kita mencari suatu tempat di sebuah wilayah yang kita belum pernah sama sekali melewatinya, jika tanpa bekal Peta ? tersesat ? pasti ! kalaupun sampai pasti butuh waktu yang lama dan bisa sampai kehabisan bekal lalu kita mati diperjalanan. Al-Qur’an adalah Peta, didalamnya menunjukkan mana Jalan yang Lurus dan mana Jalan yang Bengkok, mana Jalan Allah dan dimana Jalan Setan, mana Jalan ke Sorga dan mana Jalan ke Neraka, mana Jalan Kesuksesan dan mana Jalan Kegagalan, mana Jalan Keselamatan dan mana Jalan Kecelakaan, mana Jalan Kebahagiaan dan mana Jalan Kesengsaraan, semuanya ada di dalam Al-Qur’an Peta Hidup kita.

Sahabat, dengan Sudut pandang yang Luar Biasa seperti ini terhadap Al-Qur’an, barulah kita pahami betapa pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan kita.

Wallahu A'lam....

Menikmati Sholat


Suatu ketika Rosulullah menawarkan sayembara kepada Ali bin Abi Thalib dengan Hadiah SORBAN Beliau jika Ali bin Abi Thalib mampu sholat sunnah 2 rakaat dengan khusyu’ tanpa mengingat apapun kecuali bacaan dan do’a sholatnya. Ali bin Abi Tholibpun menerima tawaran itu dan langsung melaksanakannya, setelah selesai sholat, Rosulullah bertanya “ Bagaimana ? “ , “ wah gak bisa ya Rosul, waktu sudah mendekati salam, saya ingat Sorban Rosul yang akan Anda berikan kepada saya “.

Suatu ketika Rosulullah memimpin sholat Jama’ah, lalu beliau mendengar ada tangisan bayi di belakangnya, maka Rosulullah mempercepat sholatnya. Demikian juga ketika beliau sholat sambil menggendong cucunya, anak kecil itu kadang digendong kadang juga diletakkan padahal beliau sedang sholat.

Khusyu’ dalam sholat bukan berarti TIDAK INGAT APA-APA kecuali bacaan sholat

Sahabatku yang senantiasa mentaati Allah SWT, sudah berapa lama kita melaksanakan Sholat ? tapi apa yang selama ini kita rasakan atau apa yang bisa kita nikmati dalam sholat kita ? rasanya biasa-biasa saja, belum ada yang istimewa, kelihatannya masih hambar, kadang-kadang bisa sedikit khusyu’ bahkan sekali-sekali bisa menangis ketika berjama’ah orang-orang pada nangis ya kita juga ikutan nangis atau hanyut dengan keindahan suara sang Imam.

Lalu pernahkah kita mengevaluasi sholat kita selama ini, adakah keinginan kita meningkatkan kualitas sholat kita ? ataukah kita biarkan menggelinding begitu saja, asal-asalan, asal sudah sholat dan gugur sudah kewajiban.

Sahabat inilah bagian terpenting bagaimana kita bisa merasakan Orgasme Spiritual.

“ Dan hendaklah kalian MEMOHON PERTOLONGAN dengan KESABARAN dan SHALAT. Karena sesungguhnya ia benar-benar berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.(Yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan MENEMUI RABB mereka dan bahwa mereka hanya akan kembali kepada-Nya”.( Al-Baqoroh : 45-46 )

Dalam ayat diatas Allah kasih 4 POIN YANG SALING TERKAIT untuk dapat menikmati sholat :

Yang pertama : Sholat kita akan terasa nikmat ketika kita MERASA BUTUH PERTOLONGAN ALLAH, mengapa kita butuh pertolongan Allah ? karena kita SELALU PUNYA MASALAH atau BEBAN, oleh karena itu bawalah masalah dalam sholat kita, semakin besar masalah atau beban kita semakin nikmatlah sholat kita, kita akan merintih, menangis, kulit dan badan kita mungkin akan gemetaran bahkan ingin menjerit rasanya. Hanya saja seringkali kita merasa tidak punya masalah yang membutuhkan solusi dari Allah SWT padahal masalah kita itu pasti selalu ada, masalah ekonomi, hubungan suami istri dan keluarga, anak-anak, pendidikan, masyarakat dan Negara, inilah penyebab mengapa kita kurang bisa menikmati sholat kita.

Oleh karena itu jika masalah atau beban kita sudah terlalu ringan, angkatlah beban sebesar-besarnya, buatlah mega proyek yang membuat kita akan tersungkur menagis dan menjerit dihadapan Allah yang Maha Perkasa. Maka ketika itu kita akan merasakan bagaimana ‘ Tangan Allah ‘ membantu mengangkat beban masalah bersama kita, dan rasakanlah kebahagiaan dan kenikmatan yang luar biasa ketika beban atau masalah yang berat itu terselesaikan.

Yang kedua : kita akan menikmati sholat dalam kondisi SABAR, tidak tergesa-gesa dan menghargai sebuah PROSES yang sedang berjalan. Dalam hal ini kita perlu memenej waktu sholat kita agar ‘ MEETING ‘ kita bersama Allah sangat Asyik dan tidak diburu oleh sebuah pekerjaan atau kepentingan lain. Disinilah Allah memberikan kebijakan dengan adanya Sholat Jama’ ( mengumpulkan 2 waktu sholat dalam satu waktu ) dan Sholat Qoshor ( meringkas Sholat yang 4 Rakaat menjadi 2 rakaat ), dari sinilah kita bisa memenej waktu sholat kita, ketika kita ada sebuah urusan yang sangat urgen yang bertepatan dengan waktu sholat tiba atau waktu sholat akan berkhir. Dengan memenej waktu sholat ini, maka ‘ Meeting kita Bersama Allah ‘ akan semakin nikmat dan leluasa berkomunikasi mencari solusi.

“ Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, ALLAH SELALU MENYERTAI ORANG-ORANG YANG SABAR “( Al-Baqoroh :153 ).


Yang ketiga : agar kita bisa serius menikmati sholat kita, kita harus YAKIN bahwa kita sedang melakukan MEETING dengan VERY VERY SPECIAL PATNER ( Robb=Tuhan ) yang benar-benar menawarkan berbagai macam mega proyek dan investasi sekaligus konsultasiNYA / pendampinganNYA, apanya yang gak enak ? kalau kita ditawari Mega Proyek terus dibantu investasinya dan dibantu juga konsultasinya 100% gratis dan hasilnya 100% buat kita, gendeng saja men kalau kita gak mau !

Mungkinkah ketika kita sedang meeting dengan orang yang akan memberi Peluang Mega Proyek, kemudian kita bilang “ Maaf ya pak, saya Cuma ada waktu 1 menit, gimana kalau to the point aja !”. kira-kira gimana jawaban kita kalau kita adalah Pihak yang akan memberi Peluang Mega Proyek tersebut ?, mungkin kira-kira begini jawaban kita “ eh dasar sontoloyo, emangnya gue yang butuh sama loe, 1 menit ? emangnya kuis apa ?! “.

Atau seorang Istri yang sudah dandan super cantik di kamar tidur yang indah, rapih dan wangi menunggu sang suami, namun ketika suami datang disambut istri dengan senyuman menuju kamar yang telah disiapkan, tiba-tiba sang suami bilang “ maaf ya sayang, aku cuma ada waktu 5 menit ada kerjaan yang harus selesai segera “, apa jawab istri kira-kira “ 5 menit ? enakan di loe gak enak di gue dong “.

Yang keempat : adalah SHOLAT itu sendiri harus kita mengerti dan kita pahami ATURAN MAINNYA, tahu bagaimana gerakannya yang benar, tahu jumlah rakaatnya, hafal dan memahami bacaan dan doa-doanya dan tahu juga segala aturan yang mendukungnya. Wah ini dia yang berat dan susah ! siapa bilang ? coba bandingkan berapa sudah lagu Indonesia, daerah dan asing yang sudah kita hafal dengan penuh penghayatan, apakah dengan menghayati lagu-lagu itu beban dan masalah kita bisa selesai begitu saja ?

Sekarang bukan zaman ‘Kolo Bendu’ atau ‘Sepur Klutuk’ ! kita belajar sholat gak harus nyantri bertahun-tahun, ada VCD Sholat dan Multimedia pembelajaran Sholat juga MP3 bacaan Sholat yang bisa kita mainkan lewat HP kita, tinggal kita serius mengalokasikan waktu untuk belajar Sholat dengan media tersebut, jika masih ada yang belum faham tinggal Tanya saja sama ustadz atau oaring terdekat kita yang lebih tau dan faham.
Yang keempat ini adalah salah satu SYARAT MUTLAK yang harus kita lakukan agar KUALITAS MEETING kita bisa NYAMBUNG dengan BAHASANYA ROBB kita

Sahabat, Ternyata Sholat itu MUDAH dan NIKMAT plus GAK PAKE MODAL, hasilnya LUAR BIASA DAHSYAT, masih gak mau sholat ? atau malas-malasan Sholat ? wah jadi TUHAN saja kita, selesai dah !

Wallahu A'lam....

Renungan Imam Ali bin Abi Thalib


"Aku kuatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombingan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat & ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat & ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan & ada pelacur yang tampil jadi figur. Ada orang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada orang beragama tapi tak berakhlaq. Ada orang berakhlaq tapi tak bertuhan. Ada orang pintar membodohi n yang bodoh tak tau diri. Lalu, diantara semua itu, dimana aq berada? " ( Imam Ali bin Abi Thalib AS)

Friday 25 March 2011

Di Antara Jalan Terbesar Menuju Wushul


Di antara jalan terbesar untuk bisa sampai, wushul kepada Allah adalah menyibukkan diri dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal demikian karena berbagai alasan yang di antaranya:

1. Shalawat mengandung tawassul kepada Allah ta’alaa dengan kekasih dan pilihanNya. Sungguh Allah telah berfirman: “...dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya... “QS al Maidah:35. dan kiranya tiada wasilah kepada Allah lebih agung daripada RasulNya yang mulia shallallahu alaihi wasallam.

2. Sesungguhnya Allah memerintahkan dan mendorong kita agar bershalawat demi memuliakan, mengagungkan dan mengunggulkan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ini berarti shalawat termasuk amalan paling manjur, kondisi paling unggul, pendekatan yang paling tepat serta berkah yang paling merata.

3. Shalawat mengandung ungkapan rasa syukur atas sarana (jalan) nikmat-nikmat Allah kepada kita yang memang diperintahkan untuk disyukuri. Maka tiada nikmat yang telah lewat dan yang akan didapat berupa penciptaan dan uluran anugerah di dunia dan akhirat kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebab (sarana) sampai dan mengalirnya nikmat itu kepada kita.
Jadi nikmat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada kita adalah mengikuti nikmat-nikmat Allah ta’aalaa yang tidak bisa terhitung. Maka ada hak bagi Beliau atas kita. Dan dalam mensyukuri nikmat beliau, wajib bagi kita untuk tidak kendor bershalawat atasnya.

4. Sesungguhnya beliau shallallahu alaihi wasallam dicintai oleh Allah dan mulia derajat di sisiNya. Karena itulah wajib mencintai orang yang dicintai Allah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan mencintai dan mengagungkannya. Dan (tentunya) wajib pula bershalawat atasnya serta mengikuti shalawatNya dan shalawat malaikat atasnya.

5. Segala yang warid tentang keutamaan shalawat dan besarnya pahala yang dijanjikan karenanya serta sebutan yang mulia. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali shalawat maka Allah bershalawat atasnya sepuluh kali”(HR Muslim Abu Dawud Nasai Turmudzi). Maksudnya Allah menyambutnya dengan sepuluh rahmat, melebur darinya sepuluh kesalahan, dan mengangkatnya sepuluh derajat sebagaimana dalam hadits Anas ra dari riwayat Imam Ahmad di mana ini termasuk kategori tambahan dalam pahala sebab besarnya keutamaan shalawat. Dan karena Allah tidak menjadikan balasan mengingat nabiNya kecuali berupa perhatianNya kepada orang yang mengingat nabiNya. Dan tentu perhatian Allah kepada seorang hamba lebih agung dan lebih mulia serta memiliki keutamaan yang lebih merata dan lebih sempurna (Fathul Qarib al Mujib Lissayyid Alawi al Maliki hal 89)

Dan karena di dalam shalawat ada sekian banyak hikmah tersebut maka shalawat menjadi sarana meraih ridho Allah Maha Penyayang dan sarana mendapatkan keberuntungan. Shalawat menjadikan berkah-berkah menampak, do’a-do’a dikabulkan dan tangga menaiki derajat-derajat tinggi. Dengan shalawat keretakan hati bisa ditutupi dan dosa-dosa bisa diampuni. Hal demikian sebagaimana diajarkan dalam hadits Ubayy bin Ka’ab: “Maka saya menjadikan seluruh shalawatku hanya untukmu” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika demikian maka seluruh kesusahanmu akan diselesaikan dan dosamu akan diampuni”(HR Ahmad Turmudzi dan Hakim. Imam Hakim menshohihkannya. Imam Turmudzi berkata: Ini hadits hasan dan shohih)
Dalam hadits ini ada ada jaminan kecukupan urusan dunia dan akhirat bagi orang yang menjadikan seluruh shalawatnya untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan karena hal demikian termasuk mengahadiahkan pahala amalan ini dalam lembar catatan amal beliau shallallahu alaihi wasallam.

Maka dari itulah hingga diucapkan bahwa sesungguhnya shalawat mencukupi dan menempati posisi seorang guru murobbi di jalan akhirat. Sayyidi al Walid Abuya rahimahullah mengatakan: “Setiap orang membutuhkan pembimbing yang bisa mendidik dan mengarahkan. Ia yang mendidik hatinya, membersihkan akhlaknya dan menuntun tangannya menuju Allah. Dialah figur dimana (berkah) bergaul akrab dengannya, Allah menjaga dia dari keburukan, hawa nafsu dan kemaksiatan. Apabila kita tidak ,menemukannya lantas apa yang kita lakukan? Shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah guru orang yang tidak memiliki guru”

Wallahu A'lam

Penentu Nilai Pahala

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

اْلأَجْرُ عَلَى قَدْرِ النَّصَبِ

“Pahala sesuai dengan kadar kepayahan:” HR Bukhari Muslim.
Keadilan Allah menentukan bahwa sedikit dan banyaknya pahala yang diberikan kepada orang beramal adalah tergantung kepayahan yang dialami. Ibaratnya orang bekerja, maka upah yang diterima adalah sesuai dengan keringat yang dicucurkan. Berangkat dari prinsip ini para ulama mencetuskan sebuah kaidah, “Apa yang banyak aktivitasnya maka banyak pula keutamaannya”. Setelah menyelesaikan Umrah, Aisyah ra mendapat pengarahan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
أَجْرُكِ عَلَى قَدْرِ نَفَقَتِكِ أَوْ نَصَبِكِ

“Pahalamu sesuai dengan kadarn biayamu atau kepayahanmu ”
Dalam riwayat lain dengan bahasa yang artinya, “Sesungguhnya bagimu pahala setara dengan kadar kepayahan dan belanjamu”. Dalam riwayat Imam Ahmad dari Sufyan Ats Tsauri berbunyi yang artinya, “Pahala hanya tergantung pada kadar kesabaran” kendati demikian seperti halnya orang bekerja, terkadang upah yang diterima jauh lebih tinggi dan tak sebanding dengan ringannya pekerjaan yang dilakukan. Anugerah Allah juga demikian halnya, dalam kondisi tertentu Dia memberi pahala jauh lebih banyak dibanding dengan sedikitnya amal yang dikerjakan.

Imam Nawawi berkata: “ Zhahir hadits di atas menunjukkan bahwa pahala dan anugerah yang didapat dari ladang Ibadah setara dengan kadar biaya dan kepayahan yang dikeluarkan” al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Memang kenyataan demikian, hanya saja terkadang ada Ibadah yang mendapat nilai tinggi dari Allah disebabkan oleh masa saat ibadah itu dilakukan seperti shalat malam pada Lailatul Qadar atau juga disebabkan oleh tempat di mana ibadah itu dilaksanakan seperti halnya shalat dua rakaat di Masjidil Haram...” Para ulama fiqih menyebutkan bahwa ada banyak masalah yang dikecualikan dari dari kaidah di atas, antara lain;

1. Shalat Qoshor lebih utama daripada shalat lengkap (Itmaam) dalam tiga hari pertama
2. Shalat Dhuha lebih utama dilakukan delapan rakaat meski yang paling banyak adalah 12 rakaat
3. Witir lebih utama dilakukan tiga rakaat daripada lebih dari itu
4. Shalat Subuh meski hanya dua rakaat tetapi lebih utama daripada shalat fardhu yang lain
5. Satu rakaat witir lebih utama daripada dua rakaat shalat fajar atau bahkan lebih utama daripada shalat tahajjud yang jumlah rakaatnya lebih banyak
6. Shalat Id lebih utama daipada shalat gerhana kendati shalat gerhana lebih panjang
7. Shalat Sunnah Fajar lebih utama dilakukan dengan singkat daripada dilakukan dengan panjang
8. Memabaca satu surat pendek yang sempurna dalam shalat lebih utama daripada membaca surat panjang tetapi tidak sempurna
9. Mengumpulkan berkumur (Madhmadhah) dan menghisap air dengan hidup (Istinsyaaq) dengan tiga kali cidukan air lebih utama daripada memisahnya sehingga menjadi enam kali cidukan air
10. Haji dan Wuquf dengan menaiki kendaraan lebih utama daripada dengan berjalan kaki

Sementara itu Sayyid Ahmad Zarruq berkata: “ Kaidah, “Pahala sesuai dengan kadar Ittiba’ (mengikuti Rasul shallallahu alaihi wasallam), bukan sesuai kadar kepayahan (Masyaqqot)”. Ini karena Iman, Makrifah, Dzikir dan Tilawah melebihi ibadah yang lebih berat yang dilakukan oleh tubuh. Adapun sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Pahalamu sesuai kadar kepayahanmu” maka ini tak lebih hanya kabar khusus untuk orang khusus, jadi tidak bisa diartikan umum. Apalagi Nabi shallallahu alaihi wasallam jika disuruh memilih antara dua hal maka pasti yang paling mudah yang menjadi pilihan Beliau, ini dalam kapasitas Beliau selaku manusia yang paling mengerti dan paling takut kepada Allah” .

Syekh Ahmad bin Hajar dalam at Tuhfah menyatakan bahwa hal itu (perkecualian dan ucapan Sayyid Zarruq) sama sekali tidak bertentangan dengan Kaidah dalam hadits di atas, sebab meski hal - hal perkecualian tersebut tidak mendapat keutamaan dari ketiadaan masyaqqoh maka sungguh hal perkecualian itu mendapat anugerah dari sisi lain yang bersamaan dengannya yaitu Ittiba’ dimana pahala dari sisi ini jauh melebihi pahala banyak amal dan melebih pahala kepayahan amal (Masyaqqoh).

Wallahu A'lam...

Dakwah Kita dengan Gerakannya Agar difahami


Seperti dimaklumi bahwa dakwah kepada kebaikan dalam pemahaman kita berlandaskan pada firman Allah: “dan hendaklah ada dari kalian (sebagian) kelompok yang menyeru kepada kebaikan... “QS Ali Imran:104.

Pertama; dalam arti mendakwahkan Islam kepada non muslim dan sesungguhnya ikatan yang mengikat kita dengan mereka adalah ikatan Dakwah kepada Islam sebagai sebuah kewajiban islam dengan berbagai sarana dakwah yang telah ditetapkan secara syara’ demi ber-jihad untuk membebaskan seluruh alam dari kekafiran, kefasikan, kemaksiatan dan agar tidak terjadi fitnah di atas bumi yang diwariskan kepada kita.
Arti yang pertama ini tidak bisa dicampur adukkan dengan arti kedua ayat tersebut (seperti berikut ini) karena tindakan mencampur adukkan ini justru menggiring sebuah gerakan (dakwah) menuju terbunuh sendiri, akan membuka luas pintu silang pendapat (khilaf) dan perselisihan (ihkhtilaf), menjadikan gerakan (dakwah) dinilai tidak jelas artinya bagi khalayak ramai serta memberikan ruang bebas kepada pihak-pihak yang ingin mengambil kesempatan untuk melemparkan berbagai macam tuduhan.

Kedua; dalam arti menyampaikan (mentransformasikan) kebaikan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin sendiri ketika mereka sedang dalam kondisi kemunduran budaya, terpecah-belah, (terjebak dalam) kenegatifan, tercerai berai dan tercabik-cabik secara politik, ekonomi dan sosial dengan cara menyelamatkan mereka dari keberadaan mereka yang ibarat buih, membangkitkan semangat mereka, mendorong mereka kepada segala hal yang baik dan bermanfaat bagi mereka, (dan memfokuskan mereka dalam) menghadapi tantangan-tantangan serta menjauhkan mereka dari hal-hal negatif. Dan sesungguhnya ikatan yang mengikat kita dengan mereka adalah ikatan aqidah yang kita yakini lebih suci daripada ikatan tanah dan tumpah darah.
Merekalah pihak tujuan kita. Kita beramal di jalan mereka. Kita membela kehormatan mereka. Dan kita menebus mereka dengan jiwa dan harta benda. Sungguh mereka begitu kuat merespon orang yang menyeru agar mereka beramal demi kebangkitan islam. Dan sesungguhnya semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah muslim dengan syarat ia tidak mengucapkan kalimat kekafiran, tidak mengingkari hal yang secara pasti dimaklumi sebagai bagian dari agama, tidak mendustakan hal yang jelas-jelas ditegaskan Alqur’an atau tidak menafsirkannya dengan cara yang sama sekali tidak sesuai dengan uslub-uslub bahasa arab atau ia tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak memiliki kemungkinan lain selain perbuatan kekafiran.

Dan sesungguhnya wajib bagi kita untuk tidak menuduh atau menyebut kafir siapapun yang telah berikrar dengan dua syahadat sekaligus juga menjalankan tuntutannya. Karena islam selalu baik dan hidup dalam relung jiwa mereka.
Sesungguhnya kewajiban gerakan (dakwah) adalah hanya memindahkan perasaan tersebut ke dalam (bentuk nyata berupa) tindakan yang islami dan (tentunya) gerakan kita ini hanyalah sekedar pemandu bagi umat demi kebutuhan mendesak mereka akan penyelamatan, motivasi dan dorongan untuk menghadapi sekian banyak tantangan dan menjauhi segala bentuk hal negatif. Karena itulah gerakan dakwah tidak seharusnya merasa benar sendiri dan bahwa selain mereka salah.Gerakan dakwah kita semestinya selalu bersama kebenaran di manapun berada. Ia mencintai persatuan dan kerukunan serta membenci hal-hal yang menyimpang/nyelneh.

Sungguh ujian terbesar kaum muslimin adalah perselisihan dan perpecahan. Sementara asas untuk mereka meraih kemenangan adalah persatuan, cinta dan kasih sayang. Generasi akhir umat ini tidak akan pernah menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang menjadikan baik generasi umat terdahulu.
Inilah pemikiran dasar, keyakinan yang tertanam dalam jiwa dan tujuan yang dimaklumi oleh kita semua agar kita berfokus ke sana sekaligus menyerukannya.

Selain ini semua kita juga meyakini bahwa perbedaan dalam masalah cabang-cabang agama adalah hal yang pasti dan tidak bisa ditawar. Tidak mungkin kita bersatu dalam cabang-cabang ini karena beberapa sebab yang di antaranya:

1) perbedaan akal dalam kekuatan atau kelemahan menggali hukum (istinbath) dan memahami dalil-dalil atau tidak mengetahuinya
2) pemahaman akan kedalaman makna-makna dan hubungan hakikat-hakikat satu dengan yang lainnya
3) keluasan dan kedangkalan ilmu
4) sesungguhnya figur ini mendapatkan informasi yang tidak didapatkan oleh figur lain. Dan begitu pula sebaliknya.
5) perbedaan lingkungan sehingga praktekpun berbeda disebabkan perbedaan masing-masing lingkungan.
6) perbedaan kemantapan hati dalam menerima riwayat yang ada
7) perbedaan menafsirkan petunjuk-petunjuk dalil. Dll

Sedangkan agama adalah ayat-ayat Alqur’an, hadits-hadits dan nash-nash yang ditafsirkan oleh akal dan pendapat dalam standart bahasa arab dan kaidah-kaidahnya. Sementara sudah pasti dan disepakati bahwa dalam hal ini manusia memiliki kemampuan yang tidak sama.
Semua ini menjadikan kita meyakini bahwa sepakat akan satu hal dalam cabang-cabang agama adalah keinginan yang mustahil terwujud dan bahkan bertentangan dengan karakter agama itu sendiri.

Jika dalam masalah-masalah cabang yang paling jelas nashnya seperti Adzan yang dikumandangkan lima kali dalam sehari saja masih terjadi perbedaan maka bagaimanakah menurut anda dalam masalah-masalah kecil/sepeleh yang hanya berdasar pada pendapat dan istinbath?

Sungguh Allah berkehendak agar agama ini tetap abadi, langgeng, bisa berjalan mengikuti perkembangan serta selaras dengan zaman. Jadi untuk tujuan ini, agama islam menjadi agama yang mudah, fleksibel, gampang dan lunak serta sama sekali tidak kaku dan tidak keras. Kita harus meyakini ini semua dan dengan sendirinya menerima semua alasan orang-orang yang berbeda dengan kita dalam masalah furu’. Kita juga perlu melihat bahwa perbedaan ini selamanya tidak boleh dijadikan penghalang bagi pertautan hati, saling memberi cinta dan saling tolong menolong dalam kebaikan diiringi rasa senang dan gembira akan setiap pihak yang berbuat baik demi kebangkitan islam di dunia secara umum, dan di Indonesia secara khusus.
Atas dasar inilah tidak ada halangan apapun bagi kita untuk ikut serta dengan gerakan positif manapun demi tujuan tersebut.

Dan sungguh kita bergembira atas pertolongan Allah kepada seluruh pelaku kebaikan dan demi kebaikan dan sesungguhnya lapangan dakwah begitu luas terpampang bagi siapapun di mana masing-masing mendapatkan bagiannya.

Wallahu A'lam...

Al Wasathiyyah Manhaj Rabbani

Waspadalah) fitnah-fitnah laksana penggalan-penggalan malam gelap gulita yang tidak bisa dihindarkan dalam seluruh lintasan-lintasan masa. Bahkan telah terjadi dalam sebaik-baik masa. Ini karena Allah telah menyatakan: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya....“QS al Mulk:2.

Aksi terbaik agar selamat dari fitnah tersebut adalah manhaj al wasath (sikap mengambil jalan tengah) yang merupakan manhaj umat ini seperti diisyaratkan dalam firman Allah: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan...“QS al Baqarah:143.

Jadi tidak ketimuran juga tidak kebaratan, tidak kebangetan juga tidak kepengkuan, tidak terlalu juga tidak teledor, tidak bersuara keras juga tidak bersuara pelan, tidak berfoya-foya juga tidak mengirit, tidak menggenggam tangan (pelit) juga tidak membentangkannya (blobo), tidak mendito (menjauh dari wanita) juga tidak bergaul bebas dengan wanita, tidak eksklusif juga tidak inklusif dan tidak ini juga tidak itu.
Akan tetapi kita meniti jalan tengah di antara kesemuanya.

Sesungguhnya kedermawanan berada pada posisi di antara foya-foya dan pelit, keberanian di antara ketakutan dan tindakan ngawur, sikap bijak di antara sikap kasar dan acuh tak acuh, senyuman di antara raut wajah cemberut dan gelak tawa, sabar di antara sikap keras dan mengeluh.

Kelas menengah dalam ekonomi adalah yang terbaik. Bukan kekayaan yang memunculkan keangkuhan. Bukan kemiskinan yang melupakan. Akan tetapi sesuatu yang mencukupi, melegakan dan mencukupi keinginan. Sungguh dikatakan: “Ambil dari cinta sesuatu yang jernih. Dan dari penghidupan sesuatu yang menckupi!”

Inilah jalan hidup (manhaj) tengah-tengah dan keseimbangan dalam menjalani urusan-urusan sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Bermadyalah, bermadyalah maka kalian akan menggapai tujuan...”HR Bukhari. “Tetapilah oleh kalian petunjuk jalan tengah-tengah” HR Ahmad. .”Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah”HR Ibnu Sam’ani.
=والله يتولى الجميع برعايته=



بسم الله الرحمن الرحيم
الْوَسَطِيَّةُ مَنْهَجٌ رَبَّانٍيٌّ

فِتَـنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ لاَ بُدَّ مِنْهَا عَبْرَ الزَّمَانِ بَلْ قَدْ وَقَعَتْ فِى خَيْرِ الْقُرُوْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : [الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً] الملك :2 . فَبِمَ نَسْلَمُ مِنْهَا؟ مِنْ إِحْسَانِ الْعَمَلِ لِلسَّلاَمَةِ مِنْهَا مَنْهَجُ الْوَسَطِيَّةُ الَّتِى هِيَ مَنْهَجُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ الْمُشَارُ إِلَيْهَا فِى قَوْلِهِ تَعَالَى : [وَكَذلِكَ جَعَلْـنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً] البقرة :143. فَلاَ شَرْقِيَّةَ وَلاَ غَرْبِيَّةَ , وَلاَ غُلُوَّ وَلاَ جَفَاءَ, وَلاَ إِفْرَاطَ وَلاَ تَفْرِيْطَ, وَلاَ جَهْرَ وَلاَ خُفُوْتَ, وَلا اِسْرَافَ وَلاَ تَقْتِيْرَ, وَلاَ غَلَّ وَلاَ بَسْطَ, وَلاَ رَهْبَانِيَّةَ وَلاَ إِبَاحِيَّةَ, وَلاَ انْقِبَاضَ وَلاَ انْبِسَاطَ, وَلاَ هَذَا وَلاَ ذَاكَ بَلْ نَبْتَغِى بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً .
إِنَّ الْكَرَمَ بَيْنَ اْلإِسْرَافِ وَالْبُخْلِ وَالشَّجَاعَةَ بَيْنَ الْجُبْنِ وَالتَّهَـوُّرِ وَالْحِلْمَ بَيْنَ الْحِدَّةِ وَالتَّبـَلُّدِ وَالْبَسْمَةَ بَيْنَ الْعُبُوْسِ الْكَالِحِ وَالضَّحْكِ الْمُتَهَافِتِ وَالصَّبْرَ بَيْنَ الْقَسْوَةِ وَالْجَزَعِ . وَالتَّوَسُّطُ فِى الْمَعِيْشَةِ أَفْضَلُ مَا يَكُوْنُ فَلاَ غِنًى مُطْغِيًا وَلاَ فَقْرًا مُنْسِـيًا وَإِنَّمَا مَا كَفَى وَشَفَى وَقَضَى الْمُنَى وَقَدْ قِيْلَ : خُذْ مِنَ الْحُبِّ مَا صَفَا وَمِنَ الْعَيْشِ مَا كَفَى .
إِنَّهُ مَنْهَجُ الْقَصْدِ وَاْلإِعْتِدَالِ فِى أَخْذِ اْلأُمُـوْرِ كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوْا) رواه البخارى . (عَلَيْكُمْ هَدْيًا قَاصِدًا) رواه الإمام أحمد . (وَخَيْرُ اْلأُمُـوْرِ أَوْسَطُهَا) رواه ابن السمعاني .
=والله يتولى الجميع برعايته=
بسم الله الرحمن الرحيم
Al Wasathiyyah
Manhaj Rabbani

(Waspadalah) fitnah-fitnah laksana penggalan-penggalan malam gelap gulita yang tidak bisa dihindarkan dalam seluruh lintasan-lintasan masa. Bahkan telah terjadi dalam sebaik-baik masa. Ini karena Allah telah menyatakan: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya....“QS al Mulk:2.
Aksi terbaik agar selamat dari fitnah tersebut adalah manhaj al wasath (sikap mengambil jalan tengah) yang merupakan manhaj umat ini seperti diisyaratkan dalam firman Allah: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan...“QS al Baqarah:143.

Jadi tidak ketimuran juga tidak kebaratan, tidak kebangetan juga tidak kepengkuan, tidak terlalu juga tidak teledor, tidak bersuara keras juga tidak bersuara pelan, tidak berfoya-foya juga tidak mengirit, tidak menggenggam tangan (pelit) juga tidak membentangkannya (blobo), tidak mendito (menjauh dari wanita) juga tidak bergaul bebas dengan wanita, tidak eksklusif juga tidak inklusif dan tidak ini juga tidak itu.
Akan tetapi kita meniti jalan tengah di antara kesemuanya.

Sesungguhnya kedermawanan berada pada posisi di antara foya-foya dan pelit, keberanian di antara ketakutan dan tindakan ngawur, sikap bijak di antara sikap kasar dan acuh tak acuh, senyuman di antara raut wajah cemberut dan gelak tawa, sabar di antara sikap keras dan mengeluh.

Kelas menengah dalam ekonomi adalah yang terbaik. Bukan kekayaan yang memunculkan keangkuhan. Bukan kemiskinan yang melupakan. Akan tetapi sesuatu yang mencukupi, melegakan dan mencukupi keinginan. Sungguh dikatakan: “Ambil dari cinta sesuatu yang jernih. Dan dari penghidupan sesuatu yang menckupi!”

Inilah jalan hidup (manhaj) tengah-tengah dan keseimbangan dalam menjalani urusan-urusan sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Bermadyalah, bermadyalah maka kalian akan menggapai tujuan...”HR Bukhari. “Tetapilah oleh kalian petunjuk jalan tengah-tengah” HR Ahmad. .”Sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah”HR Ibnu Sam’ani.

Wallahu A'lam...

MAKNA KHAIRU UMMAH DAN UMMATAN WASATHAN UNTUK MEMBENTUK GENERASI MUSLIM YANG TANGGUH


Islam adalah agama yang diwahyukan Allah Swt. sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia agar memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan yang dicita-citakan dalam ajaran Islam adalah kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya, yang meliputi kebahagiaan individu maupun sosial, kebahagiaan keluarga ataupun bangsa, kebahagiaan jasmani maupun rohani, kebahagian dunia maupun akhirat. Singkatnya, kebahagiaan dalam arti yang seluas-luasnya.

Oleh karena itu, ajaran Islam adalah ajaran yang komprehensif yang meliputi segala aspek kehidupan manusia. Islam mengandung ajaran tentang ibadah kepada Tuhan, kesejahteraan sosial dan ekonomi, kesenian, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Islam mengajarkan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang diperlukan untuk mencapai kehidupan manusia yang bermartabat dan berkemajuan.

Sejalan dengan itu ajaran Islam menekankan pentingnya pembentukan generasi muslim yang kuat dan mencerminkan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspeknya.

Umat Islam disifati di dalam al-Qur’an dengan sebutan khairu ummah, umat yang sebaik-baiknya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

“Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah?” (Q.S. Ali ‘Imrân: 110).

Bagian pertama dari ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan dalam sejarah kehidupan manusia, sedangkan bagian kedua menjelaskan tentang sebab mengapa mereka disebut umat yang terbaik. Alasannya, karena mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah atau menjauhkan dirinya dari yang munkar.

Sejalan dengan ayat tersebut di atas, Allah Swt. berfirman pula:

“Dan hendaknya kamu sekalian menjadi suatu umat yang mengajak kepada kebaikan dan menyuruh kepada yang ma’ruf. Mereka adalah orang-orang yang beruntung?” (Q.S. Ali ‘Imrân: 104).

Dalam ayat tersebut yang dimaksud al-khair ialah kebaikan yang diajarkan oleh agama, sedangkan yang dimaksud dengan al-ma’ruf ialah kebiasaan atau adat istiadat yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam. Sebaliknya, yang dimaksud dengan al-munkar ialah adat kebiasaan atau istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kebaikan yang dimaksud di dalam al-Qur’an ialah kebaikan yang didasari oleh iman kepada Allah dan melahirkan aktivitas ibadah dan akhlak.

Lebih lanjut dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa ciri-ciri manusia yang memperoleh keberuntungan yaitu orang-orang yang memiliki tanda-tanda atau sifat-sifat sebagai berikut:

1. Mereka ialah orang yang beriman kepada Allah yang menciptakan, mengatur, dan menentukan terjadinya segala sesuatu. Iman ialah kepercayaan yang tertanam di dalam hati yang dibuktikan dengan kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah;

2. Mengerjakan shalat dengan khusyu’, yakni dengan tunduk, baik lahir maupun batin, dan mengagungkan nama Allah;

3. Meninggalkan sesuatu yang tidak berguna, baik perkataan maupun perbuatan. Tidak menyiakan waktunya untuk melakukan perbuatan yang tidak berguna;

4. Memberikan sebagian hartanya (menunaikan zakat) sebagai cermin kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama manusia;

5. Mengendalikan syahwatnya dari godaan melakukan perbuatan zina;

6. Memelihara amanat dan janjinya, baik kepada Tuhan ataupun sesama manusia; dan

7. Memelihara shalatnya, dalam arti melakukannya secara istiqamah pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.

Sifat-sifat tersebut di atas adalah sifat-sifat yang membawa manusia kepada kehidupan yang mulia, baik yang bersifat pribadi maupun sosial. Tujuh sifat tersebut di atas dijelaskan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ di dalam shalatnya; yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna; yang menunaikan zakat; dan yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka dan budak yang mereka miliki. Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Orang-orang yang memelihara beberapa amanat dan janji yang dipikulnya, serta orang-orang yang memelihara salatnya, mereka adalah orang-orang yang akan mewarisi, yakni mewarisi sorga Firdaus, di mana mereka kekal di dalamnya”. (Surat al-Mu’minûn : 1-11).

Di dalam ayat lain, umat Islam disebut sebagai ummatan wasathan, yaitu umat yang memiliki sifat-sifat yang moderat, sifat pertengahan, tidak ekstrim, dan sifat yang mencerminkan keseimbangan jasmani-rohani, lahir-batin, jiwa-raga, dunia-akhirat.

Ummatan wasathan adalah umat yang moderat, yang mencerminkan keseimbangan dan keserasian, dalam sifat dan perilakunya. Para hukama’ menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat tiga daya yang masing-masing melahirkan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat itu ada yang ekstrim dalam arti berlebihan atau ekstrim dalam arti menunjukkan kelemahan. Di antara kedua sifat ekstrim tersebut terdapat sifat yang moderat dan pada sifat yang moderat itulah terletak keutamaan sebagai akhlak yang baik. Ketiga daya yang terdapat dalam diri manusia antara lain:

1. Daya berpikir, yang melahirkan keutamaan dalam bentuk kebijaksanaan. Kebijaksanaan merupakan pertengahan antara dua sifat ekstrim, yaitu ekstrim dalam arti penggunaan akal secara berlebihan dan ekstrim dalam arti ketidakmampuan manusia dalam menggunakan akalnya;

2. Daya syahwat, yaitu keinginan kepada kelezatan jasmani yang melahirkan sifat keutamaan berupa kesanggupan manusia untuk mengendalikan dirinya. Pengendalian diri merupakan pertengahan antara dua sifat ekstrim, yaitu syahwat yang berlebihan (rakus) dan syahwat yang sangat lemah sehingga manusia bersikap pasif, dingin, dan tidak mempunyai keinginan terhadap segala sesuatu;

3. Daya emosi, yang melahirkan sifat keutamaan berupa keberanian untuk memperjuangkan kebenaran. Keberanian merupakan pertengahan antara dua sifat ekstrim yaitu emosi yang berlebihan dan tanpa perhitungan, serta tidak adanya emosi untuk memperjuangkan sesuatu.

Jadi, tiga daya itu melahirkan tiga sifat utama, yaitu kebijaksanaan, keberanian, dan pengendalian diri. Dalam pada itu, terdapat sifat utama yang merupakan perpaduan antara ketiganya yaitu keadilan. Keadilan adalah sifat yang utama yang harus dimiliki oleh umat yang beriman, baik dalam kehidupan individu maupun sosial. Dalam Islam, keadilan sangat ditekankan. Karenanya, orang Islam adalah orang yang menerapkan keadilan dalam kehidupan dirinya maupun dalam bermasyarakat. Allah Swt. berfiman:

“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sekalian ummatan wasathan (umat yang moderat, umat yang adil, umat pilihan), agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu?” (Q.S. Al-Baqarah: 143).

Kebaikan dalam kehidupan sosial dimulai dari kebaikan dalam kehidupan individu. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehinga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri?” (Q.S. Ar-Ra’d: 11).

Pembentukan generasi muslim yang kuat dimulai dari pembentukan pribadi yang kuat. Pribadi yang kuat membentuk keluarga yang tangguh. Keluarga yang tangguh membentuk generasi muslim yang tangguh dan mencerminkan nilai ajaran Islam dalam akhlaknya.

Wallahu A'lam...

Rasulullah... Ajari Kami Bershalawat Padamu (II)


Tentang keluarga Nabi Muhammad, ada beberapa versi pendapat dari para ulama. Kesimpulannya adalah sebagai berikut:
1. Golongan yang tak berhak (haram) menerima zakat (keharaman ini merupakan pengistimewaan bagi mereka, sebab zakat merupakan cara pembersihan harta dari kotoran. Sedangkan mereka adalah keturunan mulia, yang nasabnya berhubungan dengan Rasulullah). Mereka adalah:
a. Bani Hasyim dan Bani al Mutthalib (menurut pendapat Imam asy Syafi’i dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad).
b. Bani Hasyim saja (menurut pendapat Imam Abu Hanifah, riwayat dari Imam Ahmad yang lain, dan Imam Ibnul Qasim (murid Imam Malik).
c. Bani Hasyim dan jalur keturunan Rasulullah di atasnya hingga kakek ke-9 beliau; Sayyiduna Ghalib. Sehingga menurut pendapat ini, Bani al Mutthalib, Bani Umayyah, Bani Naufal, dan keluarga di atas mereka hingga Bani Ghalib, termasuk dalam golongan ini (ini adalah pendapat Imam Asyhab, salah satu murid dari Imam Malik).

2. Menurut Imam Ibnu Abdil Barr, keluarga Rasulullah adalah para keturunan dan istri-istri beliau saja.

3. Seluruh pengikut Rasulullah, mulai generasi awal hingga kelak tibanya hari Kiamat. Pendapat ini dipilih oleh sebagian murid Imam Syafi’i, dan dikuatkan oleh Imam an Nawawi.

4. Mereka adalah umat Rasulullah yang bertakwa. Pendapat ini dikemukakan oleh al Qadhi Husain dan Imam ar Raghib, yang dinukil dari sekelompok ulama’.
Membaca shalawat bagi keluarga Nabi merupakan kesunnahan yang patut kita lakukan, sedangkan meninggalkannya dihukumi makruh. Rupanya, Imam asy Syafi’I begitu perhatian akan titik ini, dan perhatian itu dituangkannya lewat syair nasihat untuk kita:

يَا ألَ بَيْتِ رَسُوْلِ اللهِ حُـبُّكُمْ * فَرْضٌ مِنَ اللهِ فِي الْقُرْأنِ أَنْزَلَهْ
يَكْفِيْكُمْ مِنْ عَظِيْمِ الْقَدْرِ أَنَّكُمْ * مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكُمْ لاَ صَلاَةَ لَهْ
Duhai keluarga Rasulullah, kecintaan pada kalian adalah suatu kewajiabn yang telah diturunkan Alloh dalam al Qur’an.

Cukuplah menjadi bukti akan agungnya kedudukan kalian, bahwa orang yang tak bershalawat untuk kalian, maka baginya pun tiada balasan shalawat dari Tuhan.

( إِبْرَاهِيْمَ ) : Mengapa dalam shalawat yang kita baca setiap kali sholat ini tersebut pula nama Nabi Ibrahim? Ada pelajaran berharga yang ingin disampaikan oleh Rasulullah kepada kita lewat shalawat ini. Ya, selain bertujuan mengagungkan Nabiyullah Ibrahim, nama beliau disebut pula agar kita mengingat jasa beliau. Karena lebih dari ribuan tahun yang lalu, beliau dengan khusyuknya memohon kepada Alloh, mendo’akan kita. Do’a ini terekam indah dalam selarik ayat al Qur’an:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ
“Ya Tuhan kami, berilah ampunan untukku, kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” (Q.S. Ibrahim/14; 41)
Pun, beliau jua pernah berdo’a agar kelak dari keturunan putra beliau, Nabiyullah Isma’il, muncul seorang Nabi. Dan Nabi itulah yang telah menyelamatkan kita semua; Rasulullah Muhammad shallallohu ‘alayhi wa sallam. Dalam al Qur’an, do’a itu terabadikan dalam Q.S. al Baqarah/2; 129:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِنْهُمْ يَتْلُوْ عَلَيْهِمْ أيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Maka tak heran bila Rasulullah pernah mengatakan bahwa beliau merupakan berkah dari do’a Nabi Ibrahim. Dan beliau mengajarkan kita agar bermukafa’ah, membalas budi baik Nabi Ibrahim yang telah mendo’akan kita semua, serta perhatian akan kehidupan beragama kita.
Penyebutan nama Nabi Ibrahim ini juga merupakan pengkabulan do’a sang Khalilullah. Beliau pernah berdo’a: waj’al lii lisaana shidqin fil aakhiriin... dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang kemudian... (Q.S. asy Syu’araa’/26; 84). Maka lisan-lisan kita pun menyebut nama Nabi Ibrahim dengan penuh pengagungan, tiap hari, di dalam ketenangan shalat.

( ألِ إِبْرَاهِيْمَ ) : Selain kepada Nabi Ibrahim, kita juga mengikutsertakan keluarga beliau dalam shalawat ini. Namun yang dimaksud dengan keluarga beliau adalah keturunan beliau dari Nabi Ismaa’il dan Nabi Ishaaq, yang menganut agama Alloh yang benar, mereka yang bertaqwa. Karenanya yang masuk dalam kalangan ini adalah para Nabi, shiddiqiin, syuhadaa’, dan orang-orang shalih dari keturunan beliau, bukan yang lain.

( بَارِكْ ) : Berkah berarti berkembang dan bertambahnya kebaikan, atau pembersihan dari cela. Hingga bila kita mengucap baarik ‘alaa Muhammad, itu memiliki makna: berilah beliau kebaikan yang purna, kekalkan buah tutur baik bagi beliau dan langgengkan syari’at beliau, jadikan pengikut beliau semakin bertambah, berilah beliau hak syafa’at agar dapat membela kami, kelak di hari kiamat, dan tempatkan beliau di surga yang penuh dengan keridhoan.
Sedangkan arti wa baarik ‘alaa aalihi, adalah: berilah mereka kebaikan yang pantas bagi mereka, dan kekalkan kebaikan tersebut.

( إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ) : Sebagaimana dalam mengawali do’a, dalam menutupnya kita juga disunnahkan menyebut nama Alloh. Dan ketika shalawat kepada Nabi merupakan pujian, pengagungan Alloh kepada Nabi terkasih, peluhuran nama beliau, juga penambahan cinta dan kedekatan di sisi Alloh, maka shalawat pun mengandung pujian (al hamd) dan pengagungan (al majd). Seakan-akan ketika bershalawat, kita meminta kepada Alloh Ta’ala agar menambahkan pujian dan pengagungan kepada Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa sallam. Karena shalawat merupakan bagian dari puja-puji dan pengagungan kepada Rasulullah, maka dalam permintaan kita ini, disebutlah dua nama Alloh yang sesuai dengan permintaan tersebut. Dua nama itu adalah al Hamiid (Yang Maha terpuji) dan al Majiid (Yang Maha agung).
Alloh pun telah menganjurkan kita untuk memohon dengan menggunakan nama-nama-Nya, wa lillaahil asmaa’ul husnaa fad’uhu bihaa, Hanya milik Allah asmaa’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa’ul husna itu...

Shalawat Teragung
Para ulama’ dari zaman ke zaman, tak pernah bosan mengabdi kepada Nabi. Berbagai cara dan inovasi dilakukan. Diantara mereka ada yang menyibukkan diri menggubah syair sanjungan dan pujian kepada Rasulullah, membukukan serta mengulas hadits-hadits beliau, mengumpulkan syama’il, indahnya peringai Rasulullah dalam lembar-lembar kitab, dan ada pula yang menekuni membaca, menguraikan, dan menulis buku tentang shalawat.
Salah satu shalawat yang mendapat perhatian khusus dari para ulama’ adalah Shalawat Ibrahimiyyah. Tak mengherankan memang, karena shalawat inilah yang setiap hari dibaca oleh segenap kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Pun, lafadznya memang ma’tsur, diriwayatkan langsung dari Nabi oleh para imam ahli hadits, serta muttafaq ‘alaih. Ulama’ pun menyepakati bahwa shalawat inilah yang paling utama di antara redaksi-redaksi shalawat lain (yang tentunya punya keutamaan masing-masing).
Dan setelah meneliti dengan ringkas lafadz-lafadz dalam shalawat ini, perlu kiranya kita mengetahui beberapa keutamaan dan faidah di balik Shalawat Ibrahimiyyah. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah bersabda:

مَنْ قَالَ هٰذِهِ الصَّلاَةَ شَهِدْتُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالشَّهَادَةِ وَشَفَعْتُ لَهُ.
“Barang siapa mengucapkan shalawat ini (Ibrahimiyyah), maka kelak di hari kiamat aku akan menyaksikannya sebagai seorang syahid, pun aku akan mensyafa’atinya.” (H.R. al Bukhari).

Sebagian ulama’ mengatakan bahwa jika shalawat ini dibaca sebanyak seribu kali, sang pembaca insya Alloh akan dapat bertemu Nabi dalam mimpi.
Ah, Rasulullah... alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kutatap wajahmu. Kan pasti menetes air mataku, karena pancaran ketenanganmu... Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kukecup tanganmu. Semoga mengalir keberkahan dalam hidupku, untuk meniti jejak langkahmu... Rasulullah... Ajari kami bershalawat padamu... Wallohu a’lam bis shawaab.

Hadiah untuk seseorang yang kita cinta, kita rindukan untuk bertemu dengannya, dan kita harapkan tuk mengikuti sunnahnya.
جَزَى اللهُ عَنَّا سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ مَا هُوَ أَهْلُهُ

Referensi: Ad Durrul Mandhuud (karya Imam Ibnu Hajar al Haitami), Sa’adatud Daarain dan Afdhalus Shalawat (karya Syaikh Yusuf bin Isma’il an Nabhani), Al Madhun Nabawi (karya Abuya as Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al Maliki), Kaifa Tushalli (karya Abinaa K.H. M. Ihya’ Ulumiddin)

Rasulullah... Ajari Kami Bershalawat Padamu (I)


Rasulullah…
Ajari Kami Bershalawat Padamu


Hari itu, hati para sahabat Rasulullah begitu cerah, mungkin secerah langit biru Madinah. Ya, mereka serempak mengucap tahni’ah, memberikan kata selamat pada Rasulullah. Karena sebelumnya, selarik ayat agung telah turun, mengkabarkan bahwa Alloh dan seluruh penghuni sudut-sudut langit telah bershalawat pada Sang Nabi. Dan kiranya penduduk bumi pun bergabung melantunkan serta memohonkan shalawat bagi Nabi, karena Pemilik Arsy telah berfirman,: “Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya...” (Q.S. al Ahzab/33; 56).

Gegap gempita menggema memenuhi bumi Madinah. Dan bergegas para sahabat menemui Rasulullah. Salah seorang dari mereka, bertanya kepada Rasulullah mewakili yang lainnya, yang telah menanti jawaban Rasulullah dengan penuh harap,: “Duhai Rasulullah, kami telah tahu bagaimana cara mengucap salam kepada Anda. Lalu bagaimana cara kami untuk bershalawat pada Anda?” Lama Rasulullah terdiam. Harap-harap cemas menyelimuti wajah para sahabat, kawatir beliau tiada berkenan dengan pertanyaan yang telah diajukan. Namun setelah itu, Rasulullah mengangkat kepalanya dan mendiktekan kata-kata indah sebagai jawaban penantian para sahabat. Ya, kata-kata indah yang sekarang kita kenal sebagai Shalawat Ibrahimiyyah:

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَألِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَألِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَألِ 
إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Ya Alloh, berilah rahmat beserta pengagungan kepada Nabi Muhammad dan keluarga beliau, sebagaimana kau berikan rahmat beserta pengangungan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga beliau. Dan berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga beliau, sebagaimana kau berikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga beliau. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha agung...

Di Balik Untaian Kata-kata Indah Shalawat Ibrahimiyyah
Shalawat Ibrahimiyyah datang dengan berbagai versi periwayatan yang telah dicatat rapi oleh para imam ahli hadits di dalam jilid kitab-kitab mereka. Redaksi di atas, diambil dari riwayat Imam al Baihaqi. Sedangkan yang biasa kita baca, merupakan kombinasi berbagai versi riwayat hadits.
Karena setiap hari lidah kita terhias dengan bacaan shalawat ini, kiranya kita juga perlu mengetahui rahasia lembut yang mengalir dari tiap untaian katanya. Dan semoga uraian singkat di bawah ini, dapat menjadi pengobat dahaga keingin tahuan hati:

( اَللّهُمَّ ) : Seorang yang berdoa, disunnahkan untuk memanjatkan permohonannya dengan menyebut nama Alloh atau sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Salah satunya dengan lafadz ini. Imam al Hasan al Bashri mengungkapkan bahwa Allohumma adalah tempat berkumpulnya panjatan do’a. Sedangkan Imam Abu Raja’ al ‘Attharidi berpendapat: “Sesungguhnya dalam huruf mim pada lafadz Allohumma, terdapat 99 nama Alloh Ta’ala. Dan senada dengan pendapat di atas, Imam an Nadhr bin Syumail mengatakan,: “Barang siapa mengucap Allohumma, ia telah memohon dengan menyebut seluruh nama-nama Alloh.”

( صَلِّ ) : Permintaan kita kepada Alloh agar mengguyurkan shalawat (rahmat beserta pengagungan) kepada Sang Nabi yang seluruh perhatiannya dicurahkan kepada kita, umat beliau. Tersirat pembelajaran adab dalam permintaan kita ini. Sebab, sebesar apapun upaya kita untuk membalas jasa, dan jerih payah Rasulullah dalam membimbing dan mentarbiyah kita, tak kan bisa mengimbanginya walau seujung kuku hitam pun. Karenanya, kita kembalikan dan mintakan agar Allohlah yang membalas kebaikan hati Sang Nabi. Sebab hanya Alloh lah yang Mahatahu akan apa yang pantas sebagai imbalan Rasulullah.

Dengan memohon Alloh agar memberikan shalawat atas Nabi, berarti pula kita meminta agar Alloh memuliakan Rasululloh di dunia, dengan meninggikan sebutan indah bagi beliau, mengibarkan panji agama Islam, dan mengekalkan syari’at yang telah beliau bawa. Sedangkan kelak di akhirat, agar Alloh mempurnakan balasan bagi beliau dan memberikan hak syafa’at, sebagai pertolongan Rasulullah bagi umat beliau.

( مُحَمَّدٍ ) : Merupakan nama beliau shallallohu ‘alayhi wa sallam yang termasyhur. Nama ini memiliki arti: sosok yang mengalir deras pujian kepadanya, atau sosok yang berhak dipuji terus menerus. Nama agung ini pula yang tercatat dalam lembar-lembar al Qur’an. Sedangkan dahulu dalam Injil, nama Sang Nabi akhir zaman ini disebut sebagai “Ahmad”, sebagaimana yang telah diberitakan oleh Nabiyullah ‘Isa (Q.S. as Shaf/61; 6). Nama inipun diambil dari salah satu nama-nama Alloh, hingga salah seorang penyair Rasulullah, Sayyiduna Hassan bin Tsabit memuji beliau dengan gubahan syairnya:

وَضَمَّ اْلإِلـٰهُ اسْمَ النَّبِيِّ إِلَى اسْمِهِ * إِذَا قَالَ فِي الْخَمْسِ الْمُؤَذِّنُ أَشْهَدُ
وَشَـقَّ لَهُ مِنِ اسْمِـهِ لِـيُجِلَّـهُ * فَذُو الْعَرْشِ مَحْمُوْدُ وَ هٰذَا مُحَمَّدُ
Dan Alloh menggabungkan nama Sang Nabi kepada nama-Nya, ketika adzan sholat lima waktu, muadzin mengumandangkan “Asyhadu...”
Untuk mengagungkannya, Ia pun membelah nama bagi beliau dari nama-Nya, maka Tuhan pemilik Arsy adalah al Mahmud, sedang Sang Nabi bernama Muhammad...


***

Tentang bacaan Sayyidina dalam shalawat shalat, menurut Abina K.H. M. Ihya ‘Ulumiddin dalam Kaifa Tushallii, terdapat 2 pendapat:
a. Ahli hadits berpegang pada hadits: “Shalluu kamaa ra’aitumuu ushallii”, shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. Dan mereka berpendapat bahwa melaksanakan perintah dengan mencontoh ibadah shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallohu ‘alayhi wa sallam itu lebih utama daripada melakukan adab. Dalam hal ini tidak disebutkan riwayat bacaan Sayyidinaa.

b. Ulama tashawwuf dan ahli adab, memilih menambah bacaan Sayyidina dalam shalat, karena berangkat dari perasaan hormat yang tinggi terhadap Rasulullah shallallohu ‘alayhi wa sallam. Mereka berpendapat bahwa “suatu saat melaksanakan adab itu lebih utama daripada melaksanakan perintah”. Hal ini diqiyaskan kepada apa yang dilakukan Sayyiduna Abu Bakar ketika beliau menjadi imam menggantikan Rasulullah yang sedang sakit. Pada saat berlangsungnya shalat, Rasulullah datang dan memerintahkan Sayyiduna Abu Bakar untuk tetap menjadi imam. Namun Sayyiduna Abu Bakar mundur tidak melaksanakan perintah, karena rasa hormatnya kepada Rasulullah shallallohu ‘alayhi wa sallam.

Sedangkan hadits yang berbunyi: لاَ تُسَوِّدُوْنِيْ فِي الصَّلاَةِ atau لاَ تُسَيِّدُوْنِيْ فِي الصَّلاَةِ (jangan membaca Sayyid kepadaku di dalam shalat), dikatakan oleh para ahli hadits: laa ashla lahu (tidak ada sumber yang jelas). Bahkan sebagian mengatakan bahwa itu merupakan kedustaan yang dibuat-buat.

Syari'at Thoriqot dan haqiqot


Allah subhanahu wata'ala menuntut kita semua menjadi saalikul aakhiroh (orang yang meniti jalan akhirat). Maksudnya tinjauan hidup di dunia harus diarahkan kepada kepentingan yang jauh ke depan, pembangunan kehidupan akhirat. Pembangunan kehidupan akhirat hanya bisa dititi melalui jalur taqwa dan menghindari hal-hal yang merusak taqwa itu. Upaya meniti jalan akhirat ini kita tidak boleh tidak harus menempuh tiga jalur yang terkait erat (menurut ilmu tashawwuf), yaitu jalur syariat, jalur thariqat dan jalur haqiqat.

Kenyataan umum di masyarakat, keberadaan tiga jalur tersebut seringkali dipraktekkan atau dipahami secara keliru. Contoh pertama, wujudnya thariqat dan haqiqat yang dipertentangkan dengan syari'at. Contoh kedua, thariqat umum diidentikkan dengan hanya membaca wiridan-wiridan tertentu. Ketiga, jika orang sudah mencapai tahapan haqiqat, dia boleh (ditolerir) bertindak semaunya, meski melanggar sunnah. Keempat, munculnya aliran IS (Ilmu Sejati), dlsb.

Syekh Zainuddin Al Muabbari Al Malibary dalam bait-bait syi'ir yang digubahnya menyatakan, syari'at prakteknya adalah seseorang melaksanakan apa yang telah fardlukan oleh Allah swt kepadanya. Jalur syariah adalah asasi, mengingat tidak bisa ditempuh jalur berikutnya kecuali bila berangkat dari jalur ini. Nabi Muhammad saw bersabda:

أَدِّ مَاافْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَعْبَدِ النَّاسِ وَاجْتَنِبْ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ مِنْ أَوْرَعِ النَّاسِ رواه ابن عدى

Kerjakanlah apa yang telah ditetapkan kefardluannya oleh Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi paling beribadahanya manusia, dan jauhilah apa yang telah diharamkan oleh Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi paling menjaga dirinya manusia.

Berikutnya thariqat ialah mengambil suatu amalan dari sekian banyak amalan yang ada yang ada, yang diazami dilakukan dengan penuh kesemangatan dan dijadikan sebagai rutinitas, serta sebagai tumpuan harapan. Cara thariqah seperti ditempuh Ulama dahulu umumnya adalah waro' (hati-hati/menjaga diri) meski terhadap perkara-perkara yang mubah. Cara thariqah yang lain seperti nyantri, mendidik (murobbi), berpuasa sunnah, khidmah pada dakwah atau khidmah kepada aktifis dakwah, berinfaq, sholat tahajud, qiro'atul Qur'an, dan memperbanyak wiridan, dlsb.

Sejarah menyatakan tidak ada Salafussholih dahulu kecuali mereka memiliki thariqah. Syekh Abdul Qadir Al Jailani misalnya berkata: "Aku tidak wushul kepada Allah swt dengan tahajud, tidak pula dengan puasa sunnah, akan tetapi aku wushul berkat kedermawanan, tawadlu' dan kepolosan hati." Itu artinya thariqah beliau adalah suka berinfaq, tawadlu dan polos hati.

Jika direnungkan memang cukup banyak thariqah yang bisa ditempuh. Hal ini bisa kita lihat pada periode sahabat. Hanya saja menurut standar yang minimum, para sahabat tidak tenggelam tidur di malam hari dan mesti mengkhatamkan Al Qur'an setiap tujuh hari sekali. Dari sini seyogyanya kita memiliki thariqah, terlepas dari thariqah apa yang hendak kita pilih sebagai sebuah iltizamat, tentu saja dengan memperhatikan iltizamat yang telah ditetapkan sebagai komitmen anggota Jama'ah Dakwah.

Haqiqat merupakan inti daripada dua jalur diatas, bahwa ibadah macam apa yang dilakukan semata-mata sandarannya adalah Allah swt. Amal tidak menjadi andalan, meski amalnya banyak. Jalur ini bisa ditempuh bila telah dilakukan perenungan yang mendalam dan ditemukan rahasia apa dibalik amalnya. Hasilnya adalah keikhlasan, yakin, tsiqoh billah, tunduk dan patuh, serta qonaah, sebagaimana kandungan kalimat Hauqolah. Jadi haqiqat meskipun berorientasi pada hati (bathin) tetapi dia bukanlah meninggalkan amal jasadi. Imam Al Hasan Al Bashri berkata: "Ilmu haqiqat yaitu meninggalkan perhatiaan terhadap pahalanya beramal, bukan meninggalkan beramal."

Dengan demikian, ketiga jalur di atas nyatanya mempunyai keterkaitan yang erat yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ibarat orang mau menambang mutiara yang mahal (haqiqat) dia mesti pakai kapal (syari'at) dan pergi ke laut (thariqat). Atau ibarat orang memproduksi minyak kelapa (haqiqat) ia harus mengambil isi kelapa (thariqat) setelah memecah kulitnya (syari'at). Karena itu kita memang harus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah swt, sekaligus punya thariqoh, dengan menyertakan haqiqat. Prinsip kita akhirnya, yang pokok harus beramal. Kalaulah diberi pahala, alhamdulillah, itu adalah anugerah, dan kalau pun disiksa itu keadilan dari Allah swt. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi bekal kita dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadlan. Marhaban yaa Ramadhan

Wallahu A'lam.

Popular Posts